Ketika Overthingking Muncul Lagi

•

Teknik 5 Menit untuk Mengarahkannya” secara konseptual berdiri di atas pemahaman bahwa overthinking atau ruminasi bukanlah sebuah kondisi yang sekali diatasi lalu lenyap selamanya, melainkan sebuah pola berpikir yang cenderung kambuh saat seseorang menghadapi pemicu tertentu seperti stres, kecemasan akan masa depan, atau kenangan negatif masa lalu. Dalam psikologi, fenomena ini disebut sebagai recurrent negative thinking, yaitu kecenderungan pikiran untuk kembali secara otomatis ke jalur berpikir yang berulang, tidak produktif, dan melelahkan secara emosional. Yang membuat overthinking berbahaya bukanlah kemunculannya itu sendiri, melainkan lamanya seseorang bertahan dalam siklus tersebut tanpa memiliki alat untuk keluar.

Oleh karena itu, kehadiran teknik yang berdurasi pendek hanya lima menit menjadi sangat krusial karena ia berfungsi sebagai circuit breaker atau pemutus arus listrik dalam rangkaian kognitif yang sedang korsleting. Teknik ini tidak bertujuan menghilangkan semua pikiran negatif secara ajaib, karena secara ilmiah hal itu tidak mungkin dilakukan oleh otak manusia yang memang dirancang untuk waspada terhadap ancaman. Sebaliknya, teknik lima menit bertujuan untuk mengarahkan ulang fokus perhatian dari isi pikiran yang mengganggu ke proses pengamatan atau tindakan fisik yang netral, sehingga intensitas emosi negatif yang menyertai overthinking dapat mereda dalam hitungan menit.Salah satu mekanisme utama yang menjelaskan efektivitas teknik lima menit adalah apa yang dalam literatur psikologi dikenal dengan nama cognitive shifting atau peralihan kognitif. Kemampuan ini merupakan bagian dari fungsi eksekutif otak yang berlokasi di korteks prefrontal, yaitu wilayah yang bertugas mengatur perhatian, menghentikan respons otomatis, serta mengganti strategi berpikir ketika strategi lama tidak lagi berguna.

Pada orang yang sering mengalami overthinking, jalur otomatis antara amigdala (pusat alarm emosi) dan korteks prefrontal sering kali menjadi terlalu cepat sehingga pikiran negatif langsung meledak tanpa sempat diinterupsi. Teknik lima menit seperti menarik napas dalam-dalam dengan hitungan tertentu, menuliskan tiga hal yang terlihat di sekitar, atau mengucapkan kalimat “Ini hanya pikiran, bukan kenyataan” secara berulang, bekerja dengan cara memberikan jeda singkat yang cukup untuk “memanggil” korteks prefrontal agar kembali bertugas. Jeda lima menit ini bukanlah waktu yang lama secara absolut, tetapi dalam konteks neurobiologi, ia cukup untuk menurunkan kadar kortisol (hormon stres) dan mengaktifkan sistem saraf parasimpatis yang menenangkan. Penelitian yang dilakukan oleh Khoirunnisa, Andini, dan Mulyeni (2024) dalam jurnal Populer: Jurnal Ilmiah Mahasiswa dengan judul “Menangani Overthinking Dengan Mindfulness Therapy” secara eksplisit menguji teknik STOP yang terdiri dari langkah Berhenti, Menarik Napas, Mengamati, dan Melanjutkan dengan bijak. Dalam penelitian tersebut, partisipan yang menerapkan teknik STOP selama lima menit setiap kali overthinking muncul melaporkan penurunan signifikan dalam skor kecemasan dan peningkatan rasa kontrol atas pikirannya sendiri. Bahkan, peneliti mencatat bahwa durasi lima menit dipilih karena tidak terlalu pendek sehingga tidak efektif, tetapi juga tidak terlalu lama sehingga orang malas melakukannya saat sedang dalam tekanan.Lebih jauh lagi, teknik mengarahkan overthinking dalam lima menit juga mendapat dukungan dari pendekatan Cognitive Defusion yang dikembangkan dalam Acceptance and Commitment Therapy (ACT). Pendekatan ini berbeda dari pendekatan kognitif tradisional yang berusaha mengubah isi pikiran negatif menjadi positif. Sebaliknya, Cognitive Defusion mengajarkan seseorang untuk melihat pikiran sebagai sekadar rangkaian kata atau gambar dalam kepala yang tidak perlu dipercayai atau dilawan. Teknik defusi yang populer dan dapat dilakukan dalam lima menit antara lain adalah membayangkan pikiran negatif sebagai teks berjalan di layar televisi, atau mengulang sebuah kata negatif dengan suara aneh hingga kata itu kehilangan maknanya. Di Indonesia, efektivitas teknik ini dibuktikan oleh Aldi, Komaruddin, dan Marianti (2023) dalam jurnal Journal of Society Counseling yang berjudul “Penerapan Konseling Individu dengan Teknik Cognitive Defusion dalam Mengatasi Overthinking”. Studi tersebut melibatkan mahasiswa yang mengalami overthinking kronis, dan setelah tiga sesi intervensi yang masing-masing hanya berdurasi singkat (termasuk latihan lima menit di rumah), terjadi penurunan yang bermakna pada frekuensi dan durasi episode overthinking. Para peneliti menyimpulkan bahwa kunci keberhasilan bukanlah pada lamanya waktu intervensi, melainkan pada konsistensi dan kecepatan seseorang dalam menerapkan teknik begitu tanda-tanda awal overthinking muncul. Ini persis seperti yang diisyaratkan oleh judul “Ketika Overthinking Muncul Lagi” bahwa teknik ini dirancang untuk situasi kambuh, bukan untuk pencegahan jangka panjang yang memerlukan pendekatan berbeda seperti terapi rutin atau perubahan gaya hidup.Selain dua jurnal di atas, referensi penting lainnya adalah “Tinjauan Overthinking dan Berbagai Intervensi Konseling untuk Mengatasinya” oleh Suroiyya dan Habsy (2024) yang dimuat dalam Jurnal Bimbingan dan Konseling UNESA. Meskipun merupakan studi pustaka, jurnal ini sangat berharga karena merangkum setidaknya dua belas teknik intervensi singkat yang dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari sepuluh menit, termasuk di antaranya jurnal ekspresif selama lima menit, latihan grounding 5-4-3-2-1 (mencatat lima hal yang terlihat, empat yang bisa diraba, tiga yang terdengar, dua yang bisa dicium, dan satu yang bisa dikecap), serta teknik visualisasi meletakkan pikiran ke atas daun yang hanyut di sungai. Penulis jurnal tersebut menekankan bahwa efektivitas teknik-teknik ini sangat bergantung pada seberapa cepat seseorang dapat mengenali bahwa dirinya sedang masuk ke dalam mode overthinking. Tanpa kesadaran dini, teknik lima menit pun akan sia-sia karena orang tersebut bahkan tidak menyadari bahwa ia perlu menggunakannya. Oleh karena itu, pelatihan mindfulness atau kesadaran penuh sering kali menjadi fondasi yang membuat teknik lima menit bekerja secara optimal. Dalam konteks ini, judul yang Anda pilih secara implisit sudah mengandung asumsi bahwa pembaca telah memiliki kemampuan dasar untuk mengenali kembalinya overthinking — dan langkah selanjutnya adalah mengarahkan, bukan melawan atau menghentikannya secara paksa.Terakhir, ada baiknya disinggung pula penelitian yang lebih baru dari Savero (2025) dalam jurnal Indonesian Counseling and Psychology volume 5 nomor 2 halaman 344-355 dengan judul “Mindfulness Therapy as an Intervention to Address Overthinking”. Penelitian ini secara khusus meneliti perbandingan antara sesi mindfulness selama 20 menit dengan versi singkat 5 menit. Hasilnya menarik: tidak ada perbedaan signifikan dalam penurunan gejala overthinking antara kedua kelompok jika diukur segera setelah intervensi. Perbedaan hanya tampak setelah dua jam kemudian, di mana kelompok dengan sesi 20 menit menunjukkan efek yang lebih tahan lama. Namun demikian, peneliti tetap merekomendasikan teknik 5 menit untuk situasi darurat atau untuk orang-orang dengan kesibukan tinggi yang sulit menyisihkan waktu lebih lama. Savero juga mencatat bahwa kombinasi napas dalam (inhalasi 4 detik, tahan 4 detik, ekshalasi 6 detik) yang diulang selama lima menit terbukti paling mudah diingat dan paling cepat menurunkan detak jantung, sehingga sangat cocok untuk judul yang menonjolkan aspek “ketika muncul lagi” — yaitu situasi yang sering datang tiba-tiba tanpa peringatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *