Pernah gak sih, kamu lagi rebahan tapi kepala malah overaktif? Baru aja kirim chat, langsung kepikiran “gue salah ngomong gak ya?”, atau habis lihat story teman jadi mikir “kok hidup dia lebih rapi dari gue?”. Tanpa sadar, kita lagi berhadapan sama “monster” bernama overthinking. Dan jujur aja, aku juga sering ada di posisi itu.
Menurutku, overthinking itu simpel: kebanyakan mikir, tapi gak ke mana-mana. Bukannya nemu solusi, malah makin muter di tempat. Kadang kita ngulang-ngulang kejadian masa lalu sambil nyesel, kadang juga sibuk ngebayangin masa depan yang bahkan belum tentu terjadi. Hasilnya? Capek sendiri. Yang lebih bikin kesel, kita sadar lagi overthinking, tapi tetap aja susah berhenti.
Aku menyebut overthinking sebagai monster karena dia gak kelihatan, tapi efeknya nyata. Awalnya cuma pikiran kecil, misalnya “dia belum bales chat”. Tapi lama-lama berkembang jadi cerita panjang di kepala: “jangan-jangan dia kesel”, “kayaknya gue bikin salah”, sampai akhirnya “yaudah, gue emang gak penting”. Padahal, semua itu belum tentu benar. Dari satu pikiran kecil, tiba-tiba jadi satu drama penuh di kepala sendiri.
Yang sering gak disadari, overthinking itu bukan cuma bikin capek pikiran, tapi juga ngaruh ke hal lain. Mood jadi gampang drop, tidur jadi berantakan, bahkan kita jadi ragu terus setiap mau ambil keputusan. Rasanya kayak HP yang kebanyakan aplikasi kebuka—baterai cepat habis padahal gak dipakai buat hal penting. Kita lelah, tapi gak tahu kenapa.
Kalau dipikir-pikir, wajar sih kenapa anak muda sekarang gampang overthinking. Kita hidup di era yang serba cepat dan penuh tekanan. Buka media sosial sedikit, langsung lihat orang lain yang kelihatannya lebih sukses atau lebih bahagia. Belum lagi tuntutan buat selalu terlihat “baik-baik saja”, ditambah ketidakpastian masa depan yang bikin kepala makin penuh. Akhirnya, pikiran kita jadi tempat semua kekhawatiran numpuk tanpa jeda.
Aku sendiri juga belum sepenuhnya bebas dari overthinking, tapi aku mulai belajar menghadapinya pelan-pelan. Hal pertama yang aku lakukan adalah sadar dulu kalau aku lagi overthinking. Kedengarannya sepele, tapi ini penting banget. Dari situ, aku mulai belajar bedain mana fakta dan mana cuma skenario di kepala. Gak semua yang aku pikirin itu nyata, banyak yang cuma asumsi. Kadang aku juga nulis isi pikiran biar gak numpuk di kepala, dan coba fokus ke hal yang bisa aku lakukan sekarang, bukan yang belum tentu terjadi.
Akhirnya aku paham, overthinking itu bukan sesuatu yang harus dimusnahkan. Semakin dilawan, justru semakin kuat. Lebih baik dipahami. Karena di balik overthinking, biasanya ada rasa takut, rasa peduli, atau keinginan untuk jadi lebih baik. Dan itu hal yang manusiawi.
Jadi kalau kamu lagi overthinking, santai aja, kamu gak sendirian. Mental tangguh itu bukan berarti selalu tenang dan gak pernah kepikiran. Tapi tentang tetap berjalan, walaupun kepala lagi ribut. Pelan-pelan aja, kenali “monster”-nya, jangan langsung dimusuhin. Karena kadang, yang kita butuhin bukan berhenti mikir, tapi belajar supaya gak tenggelam di dalamnya.

Leave a Reply